Networking


Menurut info dari sini :www.bayumukti.com/google-adsense-bisa-untuk-bahasa-indonesia-loh. Google adsense gak mau nampilin iklan komersial di web yang berbahasa Indonesia. Iklan yang tampil hanyalah iklan layanan masyarakat yang tentu tidak bisa untuk menimba dollar.
Tapi kabar terbaru pula, google adsense akan support bahasa indonesia tahun ini (atau sudah kali ya ). Nha sementara lom support ada yang kasih trick agar iklan komersial nampil di blog / web berbahasa Indones
Intinya adalah menambahkan (inserting) script google_language = “en” ke dalam javascript adsense kita.
Apakah hal ini melanggar TOS google ? Wallohu’alam. Saya sendiri belum mencoba, dan lebih memilih bikin blog bahasa inggris aja di sini : http://our-e-book.blogspot.com
Selamat mencoba.

Tulisan kali kembali bercerita tentang Speedy
PT. Telkom Indonesia berkali-kali mengumandangkan iklan yang bercerita tentang mudahnya akses internet bahkan sampai ke pelosok (baca : desa). Dengan kata lain Telkom menawarkan koneksi Internet yang mudah dan mudah-mudahan murah. Mudah dalam arti tidak membutuhkan perangkat yang beraneka ragam.

Sebelum ada speedy, di daerah kami koneksi internet yang paling “gampang” didapat adalah dengan media wireless. Gampang dalam hal kemudahan registrasi. Salah satu wireless internet provider di Jepara kota saya adalah Lihardo tempat saya bekerja. Setelah membayar biaya registrasi dan biaya terminasi dsb, user tinggal menikmati koneksi internet.

Speedy datang menawarkan kemudahan yang lebih baik. Tidak perlu install radio – atau bahkan tower utk antena. Yang kita perlukan hanyalah seperangkat komputer, line telepon dan ADSL modem (bahkan pada awalnya gratis dari telkom). Saya ikut merasakan kemudahan instalasi speedy ini.

Di sisi yang lain, kemudahan instalasi dan -mungkin- bagi sebagian orang harga yang relatif murah dibanding provider lain, ternyata berbanding terbalik dengan kualitas layanan dari speedy. Setidaknya ada 2 kali gangguan fatal yang saya alami selama bulan Agustus ini : tanggal 16 Agustus dan tanggal 21 Agustus 2008. Speedy down sampai lebih dari 6 jam ! Belum terhitung gangguan lainnya, semisal gagalnya akses ke situs-situs luar negeri, dsb.

Telkom memang telah merajadi saluran komunikasi kabel di seluruh Indonesia. Bahkan kini Telkom di Jepara mulai berekspansi menjual saluran telepon kabel (PSTN) sampai ke pelosok. Akankah Telkom juga “jor-joran” menyebarkan bandwidth sampai ke desa-desa? SEmoga.

Namun alangkah baiknya jika kemudahan akses ini, juga diikuti dengan perbaikan kualitas layanan. Bagaimanapun juga Telkom saat ini menjadi andalan koneksi Internet, artinya beberapa kantor dan perusahaan menggunakan hanya koneksi lewat Speedy.

Pertanyaannya adalah, kenapa harus dibuat beberapa paket layanan dengan harga berbeda tapi kualitas ternyata sama ? Tidak ada prioritas layanan terhadap paket tertentu.

Hem…semoga telkom bisa lebih baik lagi.

Tulisan ini bukan panduan apalagi tutorial, hanya pengalaman saya melakukan instalasi Linksys Wireless USB WUSB11V4. Mungkin terlalu kuno, karena boleh jadi device tersebut sudah tidak dijual lagi. Saya membeli alat tersebut kira-kira 1 tahun yang lalu seharga 125 ribu. Relatif murah sehingga sayang untuk dibuang.

Ketika saya mencoba beralih ke sistem OpenSuse, keberadaan WUSB11V4 sedikit menghambat. Awalnya kami kesulitan menemukan driver tersebut untuk sistem linux. Hasil googling mengantarkan saya pada penggunaan “ndiswrapper”

Opensuse sendiri memiliki paket ndiswrapper, kalo gak salah versi 1.25. Ternyata ndiswrapper asli bawaan Opensuse menyisakan sedikit masalah pada WUSB11V4 saya, yaitu masih menghasilkan “driver conflict” (lupa persisnya errornya). Diputuskan untuk menggunakan ndiswrapper versi terbaru (saat tulisan ini : versi 1.47)

Berikut langkah-langkah saya menginstall wirelesslan :

  1. Install OpenSUse dengan menginstall paket-paket development (utamanya kernel header development)
  2. Download ndiswrapper dari sourceforge.net
  3. Extract, lalu jalankan instalasi (make uninstall, make, make install)
  4. Untuk memudahkan instalasi driver, file driver asli bawaan wusb11v4 di copy ke direktori root
  5. Install driver ke ndiswrapper (ndiswrapper -i WUSB11V4.inf)
  6. Yakinkan bahwa driver telah terinstall (ndiswrapper -l)
  7. Install ndiswrapper ke configurasi module, agar selalu terbaca saat boot (modprobe ndiswrapper)

Installasi ndiswrapper dan driver wusb11v4 selesai. Lanjutkan dengan konfigurasi jaringan wireless. Opensuse menamai konfigurasi wireless dengan nama wlan (wlan0, wlan1, dst). Dengan bantuan yast2 konfigurasi jaringan di Opensuse menjadi lebih mudah. Caranya :

  1. Dari terminal jalan yast2 lan
  2. Saya menggunakan metode tradisional (ifup) untuk konfigurasinya.
  3. Pilih type jaringan : wireless
  4. Kolom nama sebaiknya dibiarkan (Opensuse akan memberi nama otomatis)
  5. Kolom module name pilih (ketik) “ndiswrapper” (WAJIB). Tentu tanpa tanda petik.
  6. Klik Next, akan menuntun mengisi alamat IP (Static or DHCP)
  7. Jika pilih static, pada “routing” isi dengan alamat gateway
  8. Next, pilih akses point yang akan di konek
  9. Next and finish

Seteleh klik Finish, Opensuse akan melakukan restarting network service. Perhatikan baik-baik, dan yakinkan bahwa wlan0 sudah terdetek.

Test menggunakan ping.

Done.

Pada tanggal 21 Juli 2007, Telkom Jepara mengadakan seminar menandai diluncurkannya produk Speedy di kota ini. Seminar bertajuk “Pemanfaatan Internet Untuk Pengembangan Dunia Usaha, Sekolah, dan Pemerintahan” ini dihadiri oleh ratusan peserta. Berbagai kalangan diundang menghadiri, mulai dari pelaku usaha mebel, birokrat/pemda, pihak sekolah, dan bahkan warnet. Rupanya pihak Telkom ingin menyuarakan bahwa Speedy sudah Up dan siap online di Jepara. Beberapa bulan yang lalu, sebenarnya IM2 Indosat juga menggelar acara yang sama, mengundang beberapa pihak dan mengumumkan bahwa bandwidth IM2 Indosat segera turun dan digelar di Jepara, namun sayang eventnya kurang terkelola dengan baik, sehingga tidak menimbulkan gaung yang berpengaruh.
Kembali ke peluncuran speedy. Walaupun seminar diselenggarakan sebagai momentum diluncurkannya produk speedy, tetapi dalam event tersebut sama sekali tidak ada pembicaraan mengenai produk speedy. Saya yang termasuk kecewa dengan tidak adanya pembicaraan mengenai Internet Speedy ini. Sebagai produk baru, banyak dari peserta sebetulnya menginginkan informasi speedy langsung dari pihak telkom. Bagaimana speedy bekerja, peralatan yang dibutuhkan, keuntungan/kelemahan speedy, dan nomor PSTN mana saja yang sudah disupport.
Kantor kami selama ini menggunakan jasa Astinet, masih produk telkom juga. Dengan turunnya speedy, kami berencana beralih ke speedy, pertimbangan utamanya adalah budget. Melalui Astinet, kami harus rela merogoh kocek sekitar 10 jt-an, untuk bisa internetan, sedangkan speedy di Jepara menawarkan 750 – 2 jutaan perbulan.
Namun dengan berbagai pertimbangan, diantaranya adalah mail server dan VPN yang kami kelola sendiri, rencana migrasi ke Speedy belum akan kami lakukan dalam bulan-bulan ini. Kabarnya, info yang saya terima di seminar (walaupun bukan info dari TELKOM), speedy belum mengijinkan akses VPN, juga pelanggan speedy tidak akan mendapatkan IP publik fix. Sayang sekali pihak telkom tidak mengklarifikasi hal ini, karena memang tidak ada acara tanya jawab mengenai produk speedy. Well, kami hanya menerka.
SEmoga speedy di Jepara tidak mengecewakan pemakainya.