Malam


Seumur-umur baru sekali ini pegang stir mobil. Alasannya karena gak punya mobil aja. Tapi bener juga kata seorang teman di blog, yang katanya gak punya mobil tapi bisa setir mobil, hanya karena iri ama sopir bis, sopir truk, sopir pesawat, sopir kereta, walau mereka gak punya kendaraannya. Asik juga.

Alhamdulillah, bulan ini ada mobil datang. Mobil lungsuran. Ya lungsuran, artinya gak beli tapi di “lungsuri” mobil sama Om. Walaupun model kuno, Suzuki Carry 1.0 tahun 94, masih lumayan untuk sekedar keliling kota bahkan keliling desa.

Ceritanya, karena sudah ada mobil, mau tidak mau, harus bisa setir.
Belajar pertama kali pada malam hari di lapangan kosong dekat rumah. Cuma belajar mengenal posisi gigi, lalu belajar berpindah gigi dan berputar. Belajar pertama ini feeling serasa belum masuk sama sekali. Tapi setidaknya udah ngenal teknik nyetir.
Belajar kedua ganti instruktur, dipaksa masuk ke jalan sebenarnya. Dag-dig-dug tentunya, karena macet berkali-kali, sempat nabrak pembatas jalan di pertigaan.
Belajar ketiga, berlatih parkir..sulit sekali, beberapa kali nabrak pot bunga di rumah.
Artinya belum sempurna.
Masih terus belajar.
AH…semangat-semangat.

Insyaf

By: Prof. Dr. Achmad Mubarok MA
sumber: http://mubarok-institute.blogspot.com/2008/11/insyaf.html

Kota Jakarta menjelang tahun 1970 digegerkan oleh prestasi penjahat
yang bernama Taufik. Menurut catatan polisi ia telah merampok lebih
dari 100 kali, tetapi yang aneh tidak seorangpun korbannya yang
dilukai. Menurut laporan korban, penjahat itu sangat sopan dan tidak
ada tampang kriminil. Ia selalu menyapa korban dengan sopan dan
mengucapkan terima kasih setelah berhasil merampok.

Terkadang jika merampok di jalan, ia menanyakan apakah masih ada uang
untuk ongkos pulang, jika tidak punya maka perampok itu memberikan
uang seperlunya.

Penulis bertemu perampok itu di ruang tahanan Brimob Kwitang. Ketika
itu ia sedang memberi nasehat kepada anak-anak remaja keluarga Brimob
yang berdiri di depan ruang tahanan itu, dan nasehatnyapun sungguh
baik sekali. Terkadang orang dapat mendengarnya sedang mengaji al
Qur’an di sel tahanannya itu.

Dari pemberitaan koran diketahui bahwa Taufik dahulunya adalah seorang
guru SMP di Nusa Tenggara Barat, dan termasuk guru yang dedikatip
serta disukai masyarakat. Mengapa ia sampai terjerumus ke dalam
profesi perampok, kata koran, disebabkan karena kecewa pada sistem.
Setiap kali ia mengurus kenaikan pangkat, ia selalu terbentur kepada
persoalan bahwa ia harus memberikan sejumlah uang kepada atasannya.
Berkali-kali ia mengurus selalu terhambat masalah yang sama, padahal
ia tidak memiliki uang yang diminta, sementara menurut penglihatannya,
atasannya itu hidup berkecukupan, bukan orang yang kekurangan uang.

Dari pengalaman pahit itu kemudian tertanam perasaan dendam, dendam
kepada semua orang yang berkecukupan. Ia tinggalkan pekerjaanya
sebagai guru, dan sebagai gantinya ia merampok siapa saja yang nampak
hidup berkecukupan. Ia merasa mewakili kelompok orang lemah yang
tertindas, merampas harta orang-orang yang hidup berkecukupan. Di
matanya, harta orang yang hidup berkecukupan itu pasti berasal dari
pemerasan terhadap orang lemah seperti yang dilakukan oleh atasannya
ketika ia masih menjadi guru.

Meskipun ia menjadi perampok, nampaknya karakternya sebagai guru yang
ramah dan sopan tidak hilang, sehingga dari seratus lebih korbannya,
tak satupun yang dilukai. Belakangan diberitakan bahwa uang hasil
rampokannya itupun tidak digunakan untuk foya-foya sendiri, tetapi
dikirimkan secara rahasia kepada teman-temannya sesama kaum tertindas.

Pada dasarnya Taufiq bukanlah penjahat, tetapi pengalaman pahitnya
membuatnya gelap, dan karena ia tidak dapat mengambil hikmah dari
pengalaman itu maka ia kemudian salah jalan. Untunglah ia kemudian
tertangkap dan dipenjara. Di dalam penjara konon ia menjadi narapidana
teladan, karena di sana ia benar-benar bertaubat.
Jika ada orang bertaubat, yang senang bukan hanya yang bersangkutan,
tetapi bahkan Tuhan lebih antausias untuk menerima taubatnya itu.

Nabi pernah bersabda dalam sebuah hadis Qudsi yang menceriterakan bahwa:

artinya : Sungguh Allah lebih gembira terhadap taubat hambanya ketika
ia sedang bertaubat, lebih besar dibanding gembiranya orang yang
menemukan kembali kendaraannya yang hilang. Dicontohkan; seseorang
sedang dalam perjalanan jauh di tengah padang pasir, tiba-tiba ontanya
hilang berikut perbekalan yang ada diatasnya, maka ia putus asa untuk
dapat meneruskan perjalanan, sehingga ia tiduran saja di tempat yang
agak teduh tanpa ada harapan sedikitpun untuk dapat menemukan kembali
ontanya. Tiba-tiba di tengah-tengah keputusannya ontanya sudah kembali
berdiri dihadapannya, maka saking gembiranya ia memegang kendalinya
dan berkata: Ya Allah Engkau benar-benar hambaku dan aku adalah
tuhanmu, ia berkata terbalik karena sangat gembira menemukan kembali
ontanya. H.R. Muslim. (Nah, Tuhan gembira melihat hambanya bertaubat
melebihi kegembiraan orang yang menemukan ontanya itu).

Menurut saya google memang hebat. Mesin cari ini mungkin memang terbesar di jagat raya ini. Pastilah hampir semua pengguna Internet di dunia ini mempergunakan google untuk mencari informasi apa saja.

Kadang terpikir sebetulnya data statistik pencarian ini tersimpan gak? Kalo tersimpan boleh gak kita melihat isinya ? Ternyata tersimpa dan boleh dilihat. Penasaran ?

Awalnya saya membaca tulisan sodara ebsoft tentang bagaimana “mengetahui yang sering dicari di Google” akhirnya membawa saya ke Google Insight Search.

Penasaran dengan apa yang dicari oleh user internet di Jakarta selama tahun 2008. Pada Google insight saya isikan filter : Negara Indonesia, region : Jakarata Raya, Tahun : 2008, Kategory : All Catgory. Lalu klik search, hasilnya …. menakjubkan. Sepuluh kata kunci teratas yang paling di cari di Google di Jakarta Raya adalah  (berturut-turut) 1. friendster (2) mp3 (3)video (4) cerita (5) yahoo (6) bugil (7) game (8) gambar (9) naruto (10) google.

Masih penasaran dengan isi dari masing-masing kata kunci tersebut, saya iseng klik (4) cerita. Hasilnya….lebih menakjubkan lagi, 10 teratas term cerita adalah tentang cerita dewasa dan teman-temannya.

Luar biasa.  Anda penasaran ? silakan masuk ke http://www.google.com/insights/search/

Rapuh

Penulis : Achmad Fachrie

KotaSantri.com : Detik berganti demi detik, waktu berganti
demi waktu dalam hitungan hari, bulan, hingga tahun. Entah, sudah
berapa jauh langkah menempuh waktu yang berganti. Entah, sudah berapa
banyak mimpi yang berganti dan bertahan menemani waktu yang berlalu.
Setiap pergantian membawa pergantian lain. Setiap pergantian membawa
kehilangan lain. Dan setiap pergantian membawa arti untuk lebih
memahami.

Suka dan duka, tangis dan senyum sudah tergores dalam langkah hati ini.
Dalam langkah ini terkadang hadir seribu mimpi, tapi ternyata itu hanya
berteman sepi. Mencoba memahami. Ada tapi tak sungguh menemani. Hanya
sesaat dalam semu membayangi, bukan sejati. Hingga kehilangan kembali.

Sadar ku pernah rapuh dalam setiap langkah yang tertempuh. Mengingkari
hati tak pernah sungguh hati ini menyentuh. Rasa sakit dan kehilangan
datang memberi dan terkadang membuatku terjatuh. Tapi sadar ku ini
dariMu. Rasa sakit yang memberi justru membuatku semakin kuat memahami.

Sadar ku pernah rapuh dalam langkah yang meretas. Kepala menunduk, mata
memejam, tapi hati ini menerawang jauh ke atas. Menatap langit
mahaluas. Malam hari memayungi bumi terselip cahaya. Betapa luas semua
yang
sudah tercipta. Sekilas mata ini mencoba melihat fokus yang tak
terlihat, tapi sesungguhnya lebih besar dari yang membuat diri ini
tertatih. Perlahan nafas terasa melepas asa,
pernah ku ingin berhenti jika ini tak berhenti memberi seperti ini.
Tapi akhirnya ku tetap melangkah.

Dalam nafas yang terusung. Kaki ini akan tetap berjalan dalam kuasaMu. Langkah
yang sebelumnya berjalan, mencoba
untuk tetap utuh terjaga. Ikhlas dan ketulusan menjadi tempat belajar,
tempat bersanding menyandarkan lelah dan peluh, belajar melepaskan
untuk mendekatiMu. Sabar dan syukur menjadi teman setia yang menjaga
hati ini dalam rendahnya, menghargai semua yang tertempuh.

Dalam rapuh, ku sadar selalu ada kehadiranMu dalam setiap hembusan
nafas yang menguatkan hati. Ketika sakit bukan berarti terluka, ketika
terjatuh bukan berarti berhenti, dan ketika kehilangan bukan berarti
harus ikut menghilang. Sadar ku Engkau menemani. Ku akan terus
melangkah dalam kuasaMu.

“Meski ku rapuh dalam langkah, kadang tak setia kepadaMu. Namun cinta
dalam jiwa hanyalah padaMu. Maafkanlah bila hati tak sempurna
mencintaiMu, dalam dada kuharap hanya DiriMu yang bertahta.” (Opick –
Rapuh).

Jadikanlah Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu. Dan Sesungguhnya Yang Demikian
itu Sungguh Berat, Kecuali Bagi Orang-Orang yang Khusyu [ Al Baqarah : 45 ]

Uleman, di beberapa daerah disebut kondangan, adalah menghadiri undangan suatu pesta tertentu. Menghadiri pesta pernikahan atau pesta “khitanan” di kampung saya disebut menghadiri uleman.

Salah satu kekhasan pesta pernikahan atau khitanan di kampung saya adalah, pada undangan yang disebar tidak disebut jam yang pasti kapan resepsi berlangsung. Sehingga pada baris “Pukul” atau “jam” akan diisi : “bebas” alias “jam bebas”, sebarang jam kita bisa datang. Memang umumnya tidak ada acara resepsi khusus pada pesta-pesta tersebut. Pada jam kapanpun kita bisa datang, dan dilayani.

Ciri khas lainnya adalah, pada bentuk hadiah atau kado yang dipersembahkan kepada yang punya hajat. Misal jika pesta pernikahan. Seorang A (perempuan) menikah, para tamu akan memberikan kado (hadiah) kepada : Bapak si A, dan/atau Ibu si A, dan/atau kepada A sendiri. Bentuknya juga bermacam-macam, tergantung : siapa penerima dan siapa pemberi.

Para bapak biasanya akan membawa bingkisan berupa ROKOK sebanyak satu slove (atau apa satuaan pastinya) yaitu satu bungkus besar berisi beberapa bungkus rokok. Dan bukan sembarang rokok. Para bapak ini akan memberikan rokok tersebut kepada Bapak si A tadi.

Sedangkan para ibu-ibu lebih heboh lagi bingkisannya. Paling minimal adalah gula pasir seberat 5 kg. Bahkan saya sempat melihat ada ibu-ibu yang membawa : Pisang mentah 1 tandan, beras 25 kg (1 karung plastik), makanan ringan siap saji dsb, dalam 1 paket bingkisan. Hebat. Pisang, beras dsb itu biasanya diberikan jauh-jauh hari sebelum hari H, sebagai persiapan untuk membuat aneka snack yang akan disajikan ke para tamu.

Ciri khas yang lain dari uleman dikampung saya adalah setiap bingkisan tadi akan dicatat sebagai “hutang”, yang harus dibayar ketika sipembawa bingkisan tadi memiliki hajat pesta. Misalanya jika saya menyumbang rokok Jarum Super kepada Bapak si A, suatu saat ketika saya memiliki pesta, bapak si A mau-tidak-mau harus menyumbang saya rokok Jarum Super pula. Begitu seterusnya. Jadi tepatnya bukan sumbangan, melainkan “hutang-piutang”.

Anehnya, moment sekecil apapun bisa dijadikan sebagai pesta (kemudian diistilahkan “narik” – karena bermaksud menarik sumbangan). Jangankan pernikahan, bahkan upacara memberi nama anak bayi pun bisa dijadikan moment untuk “narik”. Bahkan tetangga saya barusan adalah upacara “mitoni” (atau selamatan 7 bulan jabang bayi dikandungan), menggunakan moment tersebut untuk narik. Temen kantor istri saya bahkan hanya sekedar selamatan perbaikan/renovasi rumah, narik juga. Hebat.

Saya tidak asli dari kampung tempat saya tinggali sekarang, sehingga melihat fenomena ini saya terheran-heran. Tetangga rumah ditempat arisan RT bilang, “nggak usah heran mas, sudah tradisi”

Anehnya lagi, orang-orang kampung merasa kerepotan juga ketika memasuki bulan uleman. (Ada bulan-bulan tertentu yang sangat banyak ulemannya yaitu : Bulan Besar, Bulan Syawal, dan bulan-bulan lainnya. Sedangkan bulan Muharam/Suro, tidak ada pesta sama sekali). Bagi yang sudah disumbang, artinya dia harus melunasi hutangnya. Istri saya dalam satu minggu rerata bisa 3 -4 kali menghadiri ulemen ini, walaupun istri saya tidak berhutang (istilah mereka : kepotangan). Bayangkan jika ada yang kepotangan 3 -4 kali per minggunya berapa jumlah rupiah yang harus dikeluarkan. Satu bungkus besar rokok Jarum Super dikampung saya senilai 40 rb – 60 rb rupiah, dikalikan 4 sama dengan 160 – 360 ribu perminggu.

Bagi komunitas orang kota yang berpenghasilan menengah keatas, mungkin nilai tersebut tidaklah seberapa.

Mayoritas penduduk kampung kami adalah petani. Betul petani tulen. Sebagian lagi adalah tukang kayu. Tentu angka-angka 160 rb – 360 rb perminggu adalah membebankan.

Tapi aneh juga, walaupun banyak yang mengeluh, seperti saya, tradisi tersebut tetap berjalan…

Dunia….

Keponakan, anda tentu telah mengetahui, dia anak kakak kita. Di rumah saya juga mengasuh seorang keponakan. Memang tidak seluruh biaya hidupnya kami yang menanggung, tapi sedikit banyak kami juga membantu untuk pendidikannya.

Beberapa alasan mengapa dia kami minta tinggal dirumah kami, pertama kami bermaksud sedikit meringankan beban orang tuanya (dalam hal ini : kakak kami) dalam membiayai anak-anaknya, kami semua hanya menginginkan pendidikannya tidak terbengkelai – sukur-sukur bisa sukses. Namun agar tidak terkesan memanjakan, kami memang “mempekerjakan” dia untuk sedikit membantu pekerjaan rumah tangga seperti cuci dan setrika.

Beberapa tahun berjalan – alhamdulillah – kita tidak menemui hambatan. Memasuki tahun ke 3 dia sekolah (kelas 3 SMEA) mulai timbul permasalahan-permasalahan. Rupanya dia terlalu asyik dengan kegiatan extra kurikuler di sekolah dia, sehingga pelajaran akademik mulai terhambat. Dan bahkan, sering tidak pulang kerumah dengan alasan mengikuti kegiatan extra di sekolahnya.

Kita tentu tidak keberatan jika dia mengikuti kegiatan extra kampus dia, sepanjang menunjang prestasi akademik, dan tentu masih didalam koridor norma ketimuran yang dianut keluarga kami. Terus terang kami memang tinggal dikampung yang norma ketimuran masih terlalu dijunjung tinggi. Bagi kami dikampung, jika ada seorang gadis, perawan, tidak pulang alias menginap di tempat lain -dengan ataupun tanpa alasan yang jelas, dianggap melanggar norma.

Rupanya lagi….dia sering menggunakan alasan sekolah ketika dia tidak pulang kerumah (alias menginap ditempat lain). Ketika kami meminta surat keterangan resmi dari sekolah, dia tidak mampu menunjukan pada kami. Barangkali pihak sekolah juga menerbitkan surat semacam itu. Sementara itu disisi yang lain, prestasi akademik sianak juga tidak meningkat. Karena dia dikelas 3 yang kata gurunya – standar kelulusan sekarang relatif tinggi, tentu hambatan-hambatan diatas mulai mengkawatirkan kami.

Melalui diskusi keluarga yang panjang, terpaksa kami “mengembalikan” sikeponakan tadi kepada orang tuanya, dan menyerahkan seluruh tanggung jawab pendidikan dia kepada orang tuanya. Mungkin ini bukan suatu sikap yang bijaksana, tapi terpaksa itu kami lakukan dengan harapan sianak tadi memahami bahwa kegiatan extra kampus yang terlalu berlebihan, dan bahkan mengganggu prestasi akademik, kurang kita sukai. Kita hanya berharap dia sadar dengan norma-norma yang berlaku di kampung kami, serta memahami tugas dan tanggung jawab dia sebagai siswa.