Seumur-umur baru sekali ini pegang stir mobil. Alasannya karena gak punya mobil aja. Tapi bener juga kata seorang teman di blog, yang katanya gak punya mobil tapi bisa setir mobil, hanya karena iri ama sopir bis, sopir truk, sopir pesawat, sopir kereta, walau mereka gak punya kendaraannya. Asik juga.

Alhamdulillah, bulan ini ada mobil datang. Mobil lungsuran. Ya lungsuran, artinya gak beli tapi di “lungsuri” mobil sama Om. Walaupun model kuno, Suzuki Carry 1.0 tahun 94, masih lumayan untuk sekedar keliling kota bahkan keliling desa.

Ceritanya, karena sudah ada mobil, mau tidak mau, harus bisa setir.
Belajar pertama kali pada malam hari di lapangan kosong dekat rumah. Cuma belajar mengenal posisi gigi, lalu belajar berpindah gigi dan berputar. Belajar pertama ini feeling serasa belum masuk sama sekali. Tapi setidaknya udah ngenal teknik nyetir.
Belajar kedua ganti instruktur, dipaksa masuk ke jalan sebenarnya. Dag-dig-dug tentunya, karena macet berkali-kali, sempat nabrak pembatas jalan di pertigaan.
Belajar ketiga, berlatih parkir..sulit sekali, beberapa kali nabrak pot bunga di rumah.
Artinya belum sempurna.
Masih terus belajar.
AH…semangat-semangat.