Insyaf

By: Prof. Dr. Achmad Mubarok MA
sumber: http://mubarok-institute.blogspot.com/2008/11/insyaf.html

Kota Jakarta menjelang tahun 1970 digegerkan oleh prestasi penjahat
yang bernama Taufik. Menurut catatan polisi ia telah merampok lebih
dari 100 kali, tetapi yang aneh tidak seorangpun korbannya yang
dilukai. Menurut laporan korban, penjahat itu sangat sopan dan tidak
ada tampang kriminil. Ia selalu menyapa korban dengan sopan dan
mengucapkan terima kasih setelah berhasil merampok.

Terkadang jika merampok di jalan, ia menanyakan apakah masih ada uang
untuk ongkos pulang, jika tidak punya maka perampok itu memberikan
uang seperlunya.

Penulis bertemu perampok itu di ruang tahanan Brimob Kwitang. Ketika
itu ia sedang memberi nasehat kepada anak-anak remaja keluarga Brimob
yang berdiri di depan ruang tahanan itu, dan nasehatnyapun sungguh
baik sekali. Terkadang orang dapat mendengarnya sedang mengaji al
Qur’an di sel tahanannya itu.

Dari pemberitaan koran diketahui bahwa Taufik dahulunya adalah seorang
guru SMP di Nusa Tenggara Barat, dan termasuk guru yang dedikatip
serta disukai masyarakat. Mengapa ia sampai terjerumus ke dalam
profesi perampok, kata koran, disebabkan karena kecewa pada sistem.
Setiap kali ia mengurus kenaikan pangkat, ia selalu terbentur kepada
persoalan bahwa ia harus memberikan sejumlah uang kepada atasannya.
Berkali-kali ia mengurus selalu terhambat masalah yang sama, padahal
ia tidak memiliki uang yang diminta, sementara menurut penglihatannya,
atasannya itu hidup berkecukupan, bukan orang yang kekurangan uang.

Dari pengalaman pahit itu kemudian tertanam perasaan dendam, dendam
kepada semua orang yang berkecukupan. Ia tinggalkan pekerjaanya
sebagai guru, dan sebagai gantinya ia merampok siapa saja yang nampak
hidup berkecukupan. Ia merasa mewakili kelompok orang lemah yang
tertindas, merampas harta orang-orang yang hidup berkecukupan. Di
matanya, harta orang yang hidup berkecukupan itu pasti berasal dari
pemerasan terhadap orang lemah seperti yang dilakukan oleh atasannya
ketika ia masih menjadi guru.

Meskipun ia menjadi perampok, nampaknya karakternya sebagai guru yang
ramah dan sopan tidak hilang, sehingga dari seratus lebih korbannya,
tak satupun yang dilukai. Belakangan diberitakan bahwa uang hasil
rampokannya itupun tidak digunakan untuk foya-foya sendiri, tetapi
dikirimkan secara rahasia kepada teman-temannya sesama kaum tertindas.

Pada dasarnya Taufiq bukanlah penjahat, tetapi pengalaman pahitnya
membuatnya gelap, dan karena ia tidak dapat mengambil hikmah dari
pengalaman itu maka ia kemudian salah jalan. Untunglah ia kemudian
tertangkap dan dipenjara. Di dalam penjara konon ia menjadi narapidana
teladan, karena di sana ia benar-benar bertaubat.
Jika ada orang bertaubat, yang senang bukan hanya yang bersangkutan,
tetapi bahkan Tuhan lebih antausias untuk menerima taubatnya itu.

Nabi pernah bersabda dalam sebuah hadis Qudsi yang menceriterakan bahwa:

artinya : Sungguh Allah lebih gembira terhadap taubat hambanya ketika
ia sedang bertaubat, lebih besar dibanding gembiranya orang yang
menemukan kembali kendaraannya yang hilang. Dicontohkan; seseorang
sedang dalam perjalanan jauh di tengah padang pasir, tiba-tiba ontanya
hilang berikut perbekalan yang ada diatasnya, maka ia putus asa untuk
dapat meneruskan perjalanan, sehingga ia tiduran saja di tempat yang
agak teduh tanpa ada harapan sedikitpun untuk dapat menemukan kembali
ontanya. Tiba-tiba di tengah-tengah keputusannya ontanya sudah kembali
berdiri dihadapannya, maka saking gembiranya ia memegang kendalinya
dan berkata: Ya Allah Engkau benar-benar hambaku dan aku adalah
tuhanmu, ia berkata terbalik karena sangat gembira menemukan kembali
ontanya. H.R. Muslim. (Nah, Tuhan gembira melihat hambanya bertaubat
melebihi kegembiraan orang yang menemukan ontanya itu).