Uleman, di beberapa daerah disebut kondangan, adalah menghadiri undangan suatu pesta tertentu. Menghadiri pesta pernikahan atau pesta “khitanan” di kampung saya disebut menghadiri uleman.

Salah satu kekhasan pesta pernikahan atau khitanan di kampung saya adalah, pada undangan yang disebar tidak disebut jam yang pasti kapan resepsi berlangsung. Sehingga pada baris “Pukul” atau “jam” akan diisi : “bebas” alias “jam bebas”, sebarang jam kita bisa datang. Memang umumnya tidak ada acara resepsi khusus pada pesta-pesta tersebut. Pada jam kapanpun kita bisa datang, dan dilayani.

Ciri khas lainnya adalah, pada bentuk hadiah atau kado yang dipersembahkan kepada yang punya hajat. Misal jika pesta pernikahan. Seorang A (perempuan) menikah, para tamu akan memberikan kado (hadiah) kepada : Bapak si A, dan/atau Ibu si A, dan/atau kepada A sendiri. Bentuknya juga bermacam-macam, tergantung : siapa penerima dan siapa pemberi.

Para bapak biasanya akan membawa bingkisan berupa ROKOK sebanyak satu slove (atau apa satuaan pastinya) yaitu satu bungkus besar berisi beberapa bungkus rokok. Dan bukan sembarang rokok. Para bapak ini akan memberikan rokok tersebut kepada Bapak si A tadi.

Sedangkan para ibu-ibu lebih heboh lagi bingkisannya. Paling minimal adalah gula pasir seberat 5 kg. Bahkan saya sempat melihat ada ibu-ibu yang membawa : Pisang mentah 1 tandan, beras 25 kg (1 karung plastik), makanan ringan siap saji dsb, dalam 1 paket bingkisan. Hebat. Pisang, beras dsb itu biasanya diberikan jauh-jauh hari sebelum hari H, sebagai persiapan untuk membuat aneka snack yang akan disajikan ke para tamu.

Ciri khas yang lain dari uleman dikampung saya adalah setiap bingkisan tadi akan dicatat sebagai “hutang”, yang harus dibayar ketika sipembawa bingkisan tadi memiliki hajat pesta. Misalanya jika saya menyumbang rokok Jarum Super kepada Bapak si A, suatu saat ketika saya memiliki pesta, bapak si A mau-tidak-mau harus menyumbang saya rokok Jarum Super pula. Begitu seterusnya. Jadi tepatnya bukan sumbangan, melainkan “hutang-piutang”.

Anehnya, moment sekecil apapun bisa dijadikan sebagai pesta (kemudian diistilahkan “narik” – karena bermaksud menarik sumbangan). Jangankan pernikahan, bahkan upacara memberi nama anak bayi pun bisa dijadikan moment untuk “narik”. Bahkan tetangga saya barusan adalah upacara “mitoni” (atau selamatan 7 bulan jabang bayi dikandungan), menggunakan moment tersebut untuk narik. Temen kantor istri saya bahkan hanya sekedar selamatan perbaikan/renovasi rumah, narik juga. Hebat.

Saya tidak asli dari kampung tempat saya tinggali sekarang, sehingga melihat fenomena ini saya terheran-heran. Tetangga rumah ditempat arisan RT bilang, “nggak usah heran mas, sudah tradisi”

Anehnya lagi, orang-orang kampung merasa kerepotan juga ketika memasuki bulan uleman. (Ada bulan-bulan tertentu yang sangat banyak ulemannya yaitu : Bulan Besar, Bulan Syawal, dan bulan-bulan lainnya. Sedangkan bulan Muharam/Suro, tidak ada pesta sama sekali). Bagi yang sudah disumbang, artinya dia harus melunasi hutangnya. Istri saya dalam satu minggu rerata bisa 3 -4 kali menghadiri ulemen ini, walaupun istri saya tidak berhutang (istilah mereka : kepotangan). Bayangkan jika ada yang kepotangan 3 -4 kali per minggunya berapa jumlah rupiah yang harus dikeluarkan. Satu bungkus besar rokok Jarum Super dikampung saya senilai 40 rb – 60 rb rupiah, dikalikan 4 sama dengan 160 – 360 ribu perminggu.

Bagi komunitas orang kota yang berpenghasilan menengah keatas, mungkin nilai tersebut tidaklah seberapa.

Mayoritas penduduk kampung kami adalah petani. Betul petani tulen. Sebagian lagi adalah tukang kayu. Tentu angka-angka 160 rb – 360 rb perminggu adalah membebankan.

Tapi aneh juga, walaupun banyak yang mengeluh, seperti saya, tradisi tersebut tetap berjalan…

Dunia….