Ada terjadi perselisihan paham diantara beberapa temen kantor tetangga. Hakekat perselisihan bukan karena tugas-tugas kantor atau yang berhubungan dengan kantor… Tapi lebih ke masalah perasaan/emosi atau bahkan martabat manusia.

Perselisihan berawal ketika beban tugas seorang teman saya (kebetulan perempuan). Temen saya ini merasa beban tugas dan tanggung jawabnya melebihi temen satunya (kebetulan pria), yang notabene adalah manager (baru)nya.

Temen saya sering curhat ke saya betapa sang manager barunya sama sekali tidak ada “sense” untuk membantu memecahkan permasalahan yang terjadi dikantornya. Sehingga hampir semua staff yang ada dikantor mereka selalu mengadukan permasalahan ke temen saya –yang menurut temen saya bukan tanggungjawabnya. Didorong oleh “persaudaraan” yang terlanjur melekat sesama temen kantor, akhirnya temen sayapun turun tangan menyelesaikan permasalahan. Sementara bapak manager sibuk dengan notebooknya – entah mengerjakan apa.

Selain tidak memiliki “sense” tadi-tambah temen saya, ternyata bapak manager yang baru bergaya seperti RAJA yang seenaknya “memerintah” bawahannya.

Dua – tiga bulan berjalan, akhirnya ketegangan memuncak. Terjadi debat (mungkin lebih tepat : adu mulut) yang tidak prinsipil. Bapak manager menggunakan kalimat yang sangat menyinggung martabat ke-perempuan-an temen saya. (Saya kira kalimat bapak manager tidak perlu saya tulis disini – khawatir menyinggung semua perempuan yang membaca posting ini).

Sebagai puncaknya, dengan lantang temen saya mengajukan pengunduran diri ke owner perusahaan. Singkat cerita pengunduran diri pun diterima.

Kisah yang dituturkan temen saya tadi sedikit banyak menggugah emosi saya juga. Betapa dijaman global – bahkan mungkin era cyber sekarang ini, masih ada saja sekelompok manusia yang mempertentangkan antara perempuan dan pria, bahkan antar suku bangsa (suku bangsa A lebih moderat ketimbang suku B) dan sejenisnya.

Memang Tuhan Alloh SWT telah menciptakan perempuan dan laki-laki dalam keadaan berbeda, begitu juga dengan suku bangsa. Tapi -menurut saya- kemulian martabat manusia di Hadapan Tuhan bukan karena gender – atau suku bangsa. Tapi kualitas takwa dan iman. Saya meyakini itu! Sehingga tidak pada tempatnya kita merasa lebih tinggi karena suka bangsa kita lebih baik dari mereka atau karena kita seorang laki-laki. Atau yang lebih menyakitkan – karena kita seorang “manager” sehingga dengan enteng “memerintah” siapa saja – kapan saja bagai perintahnya seorang majikan kepada “babu”nya seperti disinetron-sinetron kita. Manager bukan “majikan” dan staff pun bukan “babu”

Saya ucapkan selamat kepada temen saya yang dengan tegas resign dari kantornya. Sedikit banyak revolusi telah terjadi di bekas kantor anda – juga diantara orang-orang yang merasa lebih hebat dari anda. Anda cukup revolusioner.