Keponakan, anda tentu telah mengetahui, dia anak kakak kita. Di rumah saya juga mengasuh seorang keponakan. Memang tidak seluruh biaya hidupnya kami yang menanggung, tapi sedikit banyak kami juga membantu untuk pendidikannya.

Beberapa alasan mengapa dia kami minta tinggal dirumah kami, pertama kami bermaksud sedikit meringankan beban orang tuanya (dalam hal ini : kakak kami) dalam membiayai anak-anaknya, kami semua hanya menginginkan pendidikannya tidak terbengkelai – sukur-sukur bisa sukses. Namun agar tidak terkesan memanjakan, kami memang “mempekerjakan” dia untuk sedikit membantu pekerjaan rumah tangga seperti cuci dan setrika.

Beberapa tahun berjalan – alhamdulillah – kita tidak menemui hambatan. Memasuki tahun ke 3 dia sekolah (kelas 3 SMEA) mulai timbul permasalahan-permasalahan. Rupanya dia terlalu asyik dengan kegiatan extra kurikuler di sekolah dia, sehingga pelajaran akademik mulai terhambat. Dan bahkan, sering tidak pulang kerumah dengan alasan mengikuti kegiatan extra di sekolahnya.

Kita tentu tidak keberatan jika dia mengikuti kegiatan extra kampus dia, sepanjang menunjang prestasi akademik, dan tentu masih didalam koridor norma ketimuran yang dianut keluarga kami. Terus terang kami memang tinggal dikampung yang norma ketimuran masih terlalu dijunjung tinggi. Bagi kami dikampung, jika ada seorang gadis, perawan, tidak pulang alias menginap di tempat lain -dengan ataupun tanpa alasan yang jelas, dianggap melanggar norma.

Rupanya lagi….dia sering menggunakan alasan sekolah ketika dia tidak pulang kerumah (alias menginap ditempat lain). Ketika kami meminta surat keterangan resmi dari sekolah, dia tidak mampu menunjukan pada kami. Barangkali pihak sekolah juga menerbitkan surat semacam itu. Sementara itu disisi yang lain, prestasi akademik sianak juga tidak meningkat. Karena dia dikelas 3 yang kata gurunya – standar kelulusan sekarang relatif tinggi, tentu hambatan-hambatan diatas mulai mengkawatirkan kami.

Melalui diskusi keluarga yang panjang, terpaksa kami “mengembalikan” sikeponakan tadi kepada orang tuanya, dan menyerahkan seluruh tanggung jawab pendidikan dia kepada orang tuanya. Mungkin ini bukan suatu sikap yang bijaksana, tapi terpaksa itu kami lakukan dengan harapan sianak tadi memahami bahwa kegiatan extra kampus yang terlalu berlebihan, dan bahkan mengganggu prestasi akademik, kurang kita sukai. Kita hanya berharap dia sadar dengan norma-norma yang berlaku di kampung kami, serta memahami tugas dan tanggung jawab dia sebagai siswa.